Selasa, 31 Januari 2012

Makalah Kerusakan Lingkungan

BAB I
PENDAHULUAN
 
A. Latar Belakang
Lebih dariseperempat abad yang lalu,tepatnya tahun 1972 di Stockholm, Swedia, diselenggarakan Konferensi PBB yang bertemakan Lingkungan Hidup. Pada kesempatan tersebut disepakati tanggal 5 Juni  sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Selain itu asas pengelolaan  lingkungan yang diharapkanmenjadi kerangka acuan bagisetiap negara.
Terjadilah kepunahan varietas atau jenis hayati yang hidup di dalam ekosistem. Kerusakan lingkungan, khususnya di Indonesia, telah terjadi pada berbagai tempat dan berbagai tipe ekosistem. Misalnya, pada ekosistem pertanian, pesisir dan lautan. Ancaman kepunahan satwa liar juga telah terjadi dimana-mana.
B. Rumusan Masalah
Memperlakukan keanekaragaman hayati sekitarnya. Misalnya, punahnya sifat-sifat kearifan penduduk lokal terhadap lingkungan hidup sekitarnya. Oleh karena itu, pengelolaan keanekaragaman hayati yang holistik, berkelanjutan dan berkeadilansosial bagi segenap warga masyarakat, sungguh diperlukan untuk mempertahankan kelestarian keanekaragaman hayati.










 
BAB II
PEMBAHASAN
Lebih dariseperempat abad yang lalu,tepatnya tahun 1972 di Stockholm, Swedia, diselenggarakanKonferensi PBB yang bertemakan Lingkungan Hidup. Pada kesempatan tersebut disepakati tanggal 5 Junisebagai Hari Lingkungan
Hidup Sedunia. Selain ituasas pengelolaan lingkungan yang diharapkan menjadi kerangka acuan bagisetiap negara turut dideklarasikan.
Kini 28 tahun sudah berlalu,namun pada kenyataannya kerusakan lingkungan hidup masih terjadi dimana-mana, termasuk di Indonesia. Yang menonjol adalah gangguan ataukerusakan pada berbagai ekosistemnya menyebabkan komponenkomponen yang menyusun ekosistem, yaitu keanekaragaman varietas (genetic, variety, atausubspecies diversity), keanekaragaman jenis (species diversity) juga ikut terganggu. Akibatnya, terjadilah kepunahan varietas atau jenis hayati yang hidup di dalam ekosistem. Pada akhirnya, baiksecara langsung ataupun tidak langsung. manusia yangsangat tergantung pada kelestarian ekosistem tapi berlaku kurang bijaksana terhadap lingkungannya, akanmerasakan berbagai akibatnya. Kerusakan lingkungan, khususnya di Indonesia, telah terjadi pada berbagai tempat dan berbagai tipe ekosistem. Misalnya, pada ekosistem pertanian, pesisir dan lautan.ncaman kepunahansatwa liar juga telah terjadi dimana-mana.
 
A. LAHAN PERTANIAN
Berbagai kerusakan lingkungan di ekosistem pertanian telah banyak terjadi baik pada ekosistem pertaniansawahmaupun ekosistem pertanian lahan kering non padi. Kerusakan lingkungan di ekosistem sawah utamanya diakibatkan oleh program Revolusi Hijau (green revolution), khususnya dengan adanya introduksi varietas padiunggul dari Filipina, dan penggunaan pupuk kimia, Serta penggunaan pestisida yang tak terkendali. Revolusi Hijau memang telah bekerjasama meeningkatkan produksi padisecara nasional (makro), namun program tersebut juga telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang tidak sedikit, seperti kepunahan ratusan varietas padi lokal, ledakan hama baru, serta pencemaran tanah dan air.
Pengaruh Revolusi Hijau pada system sawah, secara tidak langsung juga telah menyebabkan komersialisasi pertanian lahan kering. Misalnya, akibat desakan ekonomi pasar di berbagai tempat, system pertanian agroperhutanan (agroforestry) tradisional yang ramah lingkungan, seperti kebun campuran (talun, Sunda) ditebangi, dibuka lalu digarap menjadi kebun sayuran komersil.
Akibatnya, sistem pertanian agroperhutanan tradisional yang tadinya biasa ditanami aneka jenis tanaman kayu bahan bangunan, kayu bakar dan buah-buahan, serta ditanami juga dengan jenis tanamansemusim, s eperti tanaman pangan, bumbu sayur masak dan obat-obatan tradisional, kini telah berubahmenjadisistem pertaniansayur monokultur komersil.
Kendati memberi peluang keluaran( out put) ekonomi lebih tinggi, pengelolaansistem pertanian komersilsayuran pada dasarnyamembutuhkan asupan(i nput) yang tinggi yang bersumber dari luar (pasar). Keperluannya terurai seperti, benih sayur, pupuk kimia dan obat-obatan, sehingga petani menjadi sangat tergantung pada ekonomi pasar. Akibat  perubahan ini, berbagai kerusakan lingkungan terjadi disentra-sentra pertaniansayur lahan kering, seperti pegunungan Dieng di Jawa Tengah, serta Garut, Lembang, Majalaya, Ciwidey, dan Pangalengan, di Jawa Barta. Kerusakan itu antara lain timbulnya erosi tanah dan degradasi lahan, karena lahan menjadi terbuka. Erosi tanah dan pencucian pupuk kimia, serta pestisida juga masuk ke badan perairan, seperti sungai kolam dan danau. Hal ini telahmengganggu lingkungan perairan, seperti pendangkalan sungai,da nau, dan pencemaran perairan yang mengganggukehi dupan ikan, udang, dan lain-lain.
Secara umum lahan yang terbuka, telah menyebabkan punahnya fungsi- fungsi penting dari agro-perhutanan tradisional. Misalnya, fungsi pengatur tata air (hidroorologi), pengatur iklim mikro, penghasil seresah dan humus, sebagai habitat satwa liar, dan perlindungan varietas dan jenis-jenis tanaman lokal.
Maka tidaklah heran bila berbagai varietas atau jenisjenis tanaman lokal, seperti bambu,buah-buahan, kayu bakar, bahan bangunan, dan obat-obatan tradisional, makin langka, karena kurang dibudidayakan oleh para petani di lahan-lahan kering pedesaan mereka.

B. KAWASAN PESISIR DAN LAUTAN
Menurut taksiran, Indonesiamemiliki garis pantaisepanjang 81.000 km atau sekitar 14% garis pantai dunia, dengan luas perairannyamencapai 5,8 juta km2 (termasuk ZEEI). Kekayaan yang dimiliki di kawasan pesisir dan lautan adalah meliputi hutan mangrove, terumbu karang dan ikan hias, rumput laut, dan perikanan.
Pada akhir tahun 1980-an, luas hutan mangrove masih tercatat mencapai 4,25 juta, dengan sebaran yang terluas ditemukan di kawasan Irian Jaya/Papua (69
%), Sumatera (16 %), dan Kalimantan (9 %). Namun di P. Jawa, kawasan hutan  mangrove (bakau)s udah sangat terbatas, hanya tinggal tersisa di bebarapa kawasansaja.
Indonesia juga memiliki wilayah terumbu karang terluas dengan bentangan dari barat ke timur sepanjang kurang lebih 17.500 km. Rumput laut juga ditemukan di banyak tempat. Rumput laut biasanya berguna bagi berbagai kepentingan, seperti makanan ternak serta bahan baku industri. Sedangkan perikanan laut Indonesia, kaya akan jenis-jenis ikan ekonomi penting, seperti tuna, cakalang, ikan karang, pelagik kecil, dan udang. Namun sayangnya berbagai potensi kawasan pesisir dan lautan ini telah mendapat berbagai tekanan berat dari tindakan manusia yang tidak bijaksana, sehingga telah menimbulkan berbagai kerusakan lingkungan.Bukan merupakan  rahasia lagi bahwa hutan mangrove di berbagai kawasan banyak terganggu. Misalnya, penduduk lokal telah lama menggunakan berbagai pohon bakau untuk kayu bakar, bahan bangunan, tonggak-tonggak bagan, tempat memasang jaring ikan, bahan arang dan lain sebagainya. Hutan mangrove juga telah dibuka secara besar- besaran untuk dijadikan daerah pemukiman, perkebunan, bercocok tanam dan pertambakanudang. Selain itu, pengambilan kayu-kayu mangrove berfungsi sebagai bahan bakar pabrik minyak kelapa,pa br ik ar a ng, dan bahan bubur kayu (pulp).
Penebangan hutanmangrove dapatmembawa dampak negative, musalnya keanekaragaman jenis fauna di hutan tersebut berkurangsecara drastis, sementara habitatsatwa liar. Seperti  jenis-jenis burung dan mamalia terganggu berat. Dampak lain adalah hilangnya tempat bertelur dan berlindung jenis-jenis kepiting, ikan danudangsehingga banyak nelayan mengeluh karena makin sedikitnya hasil tangkapan mereka. Pengikisan pantaipun makin menjadi, akibatnya air asin dari laut merembes ke daratan. Maka daerah pertanian dan pemukiman jadi terganggu. Belum lagi akibat jangka panjang dan darisegi pengetahuan, sangatlah sukar untuk dapat dinilai kerugian yang terjadi akibat kerusakan atau punahnya hutan mangrove tersebut. Gangguan lainnya pada ekosistem pesisir dan laut adalah penggunaan bahan peledak dan racun sianida untuk menangkap ikan serta pengambilan terumbu karang. Hal tersebut menyebabkan berbagai gangguan dan kerusakan terhadap jenis-jenis terumbu karang dan ikan hias.
Gangguan terhadap perikanan laut, antara lain terjadi karena adanya eksplotasi jenis-jenis ikan danudang yangmelampui nilai keberlanjutannya dan diperberat denganmakinmaraknya pencurian yang dilakukan oleh para nelayan asing, seperti Thailand, Korea Selatan, dan Filipina. Hal ini semua telah menyebabkan penangkan ikan secara berlebihan (overfishing) yang mengganggu ekosistem lautan. Untuk jangka panjang, hal ini sangat membahayakan, karena keberlanjutan usaha perikanan nelayan dan industri perikanan di Indonesia tidak dapat dijamin.
C. KAWASAN HUTAN
Berbagai kawasan hutan di Indonesia, seperti hutan gambut yang tumbuh di lahan-lahan basah gambut, yang sangat masam (pH 4.0) dan berkandungan hara rndah, serta lahan hutan hujan pamah Dipterocarparceae ataupun non -Dipteroracpaceae telah banyak yang mengalami kerusakan. Salah satu kasus yang paling menonjol adalah pembukaan lahan gambut secara besar-besaran dalam rangka Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PPLG)sejuta hektar di Kalimantan Tengah pada tahun 1995 tanpa mempedulikan dampaknya terhadap lingkungan hidup. Program di lahan seluas 1.687.112 hektar tersebut diperuntukan bagi pengembangan pertanian tanaman pangan, lahan sawah, dan sebagai kawasan transmigrasi. Namun gagasan tersebut pudar seiring dengan munculnya sistem pemerintahan yang baru. Akibatnya lahan-lahan itu dibiarkan membentuk semak-semak belukar sehingga para transmigran yang sudah lama bermukim di sekitar tempat itu pun tidak dapat lagi menggarap lahan tersebut, karenas elain lahannya sudah tidak subur, banyak hama tikus dan babi hutan.Di samping itu, air di parit-parit pun berwarna gelap kemerah-merahan serta asam, sehingga bila dikonsumsi dapat merusak gigi (Kompas, 8 Mei 2000).
Masalah lainnya, peladangan liar oleh penduduk pendatang, kebakaran hutan dan lahan, pemberian konsesi hutan (HPH), pembukaan hutanuntuk transmigrasi dan perkebunan besar, serta pencurian hasil hutan, juga telah menyebabkan kerusakan ekosistemhutan secara besar-besaran. Akibatnya, keanekaragam flora dan fauna hutan menurun drastis, sertamanfaat hutan bagi manusia dapat terganggu atau hilang sama sekali. Contohnya, hilangnya manfaat yang langsung bagi manusia, antara lain hasil kayu, getah, sumber obat-obatan, bahan industri, bahan kosmetik, bahan buah-buahan dan lain-lain. Disamping itu, manfaat hutan secara tidak langsung juga ikut hilang. Misalnya, sebagai pengatur tata air di alam (hidroorologi0. Memberi keindahan di alam, menjaga kelembabanudara, memelihara iklim lokal, habitat satwa liar, sumber plasma nutfah, kepentingan rekreasi, kepentingan ilmiah, dan lain-lain.
Secara umum, adanya gangguan hutan dimana-mana, yang paling merasakan akibatnya secara langsung adalah penduduk yang bermukim di kawasan atau sekitar kawasan hutan. Rusak atau hilangnya hutan, bukan saja dapat mengakibatkan gangguan lingkungan hayati, tapi juga secara langsung dapat mengganggu ke hidupan sosial ekonomi dan budaya masyarakat pedesaan hutan. Mereka yang tadinya mendapatkan bahan makanan dari jenis-jenis tumbuhan atau satwa liar dengan secara bebas di hutan, akan kehilangan sumber kehidupannya.

D. BENTUK KERUKSAKAN LINGKUNGAN KARENA AKTIVITAS MANUSIA.

Manusia memanfaatkan kemajuan ilmu dan teknologi untuk mengeksploitasilingkungan sehingga kebutuhan hidupnya terpenuhi. Namun, ilmu dan teknologi yang dipergunakan oleh manusia telah mengakibatkan tekanan terhadap lingkungan hidup. Karena dalam memanfaatkan alam, manusia terkadang tidak memerhatikan dampak yangakan ditimbulkan. Beberapa bentuk kerusakan lingkungan yang dipengaruhi oleh aktivitas manusia, antara lain, meliputi hal-hal berikut ini.
Pencemaran Lingkungan Pencemaran disebut juga dengan polusi, terjadi karena masuknya bahan-bahan pencemar (polutan) yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan. Bahan-bahan pencemar tersebut pada umumnya merupakan efek samping dari aktivitas manusia dalam pembangunan. Salah satunya adalah pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh zat-zat polutan yang semakin menyesaki bumi akibat dari kemajuan teknologi. Disatu sisi,teknologi memang kita butuhkan tetapi disisi lain telah menyebabkan pencemaran yangsangat membahayakan kehidupan. Hasil dari sisa-sisa kemajuan teknologi itu kini telahmeracuni tanah, air, serta udara. Jadi, teknologi hendaknya diciptakan sedemikian rupasehingga tetap ramah terhadap lingkungan. Berdasarkan jenisnya, pencemaran dapatdibagi menjadi empat, yaitu pencemaran udara, pencemaran tanah, pencemaran air, dan pencemaran suara.Pencemaran udara yang ditimbulkan oleh ulah manusia antara lain, disebabkanoleh asap sisa hasil pembakaran, khususnya bahan bakar fosil (minyak dan batu bara)yang ditimbulkan oleh kendaraan bermotor, mesin-mesin pabrik, dan mesin-mesin pesawat terbang atau roket. Dampak yang ditimbulkan dari pencemaran udara, antaralain, berkurangnya kadar oksigen (O2) di udara, menipisnya lapisan ozon (O3), dan bila bersenyawa dengan air hujan akan menimbulkan hujan asam yang dapat merusak danmencemari air, tanah, atau tumbuhan.Pencemaran tanah disebabkan karena sampah plastik ataupun sampah anorganik lain yang tidak dapat diuraikan di dalam tanah. Pencemaran tanah juga dapat disebabkanoleh penggunaan pupuk atau obat-obatan kimia yang digunakan secara berlebihan dalam pertanian, sehingga tanah kelebihan zat-zat tertentu yang justru dapat menjadi racun bagitanaman. Dampak rusaknya ekosistem tanah adalah semakin berkurangnya tingkat kesuburan tanah sehingga lambat laun tanah tersebut akan menjadi tanah kritis yang tidak dapat diolah atau dimanfaatkan.Pencemaran air terjadi karena masuknya zat-zat polutan yang tidak dapatdiuraikan dalam air, seperti deterjen, pestisida, minyak, dan berbagai bahan kimialainnya, selain itu, tersumbatnya aliran sungai oleh tumpukan sampah juga dapatmenimbulkan polusi atau pencemaran. Dampak yang ditimbulkan dari pencemaran air adalah rusaknya ekosistem perairan, seperti sungai, danau atau waduk, tercemarnya air tanah, air permukaan, dan air laut.Sesungguhnya antara pencemaran udara, tanah dan air ini satu sama lain saling berkaitan, seperti asap pabrik dan kendaraan bermotor melepaskan karbon monoksida keudara, terjadilah pencemaran udara. Udara yang tercemar itu naik bercampur dengan uapair, terkondensasi dan turun sebagai hujan. Air hujan yang telah tercemar karbonmonoksida itu bersifat asam sehingga sering disebut hujan asam. Hujan asam ini jikamengenai tanaman atau hewan secara langsung dapat memperlambat pertumbuhannyadan bahkan membunuhnya. Air hujan asam itu juga memasuki air permukaan sepertisungai atau danau dan meracuni tumbuhan serta hewan-hewan air. Sebagian hujan asamitu meresap ke tanah dan meracuni tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan dan hewan itu jikamasih hidup akan menyimpan racun dalam tubuhnya, dan racun tersebut tanpa disadariakan masuk ke dalam tubuh manusia apabila manusia tersebut mengkonsumsi tumbuhandan hewan yang sudah terkontaminasi racun tersebut.Pencemaran air pada akhirnya juga menyebabkan pencemaran udara dan tanah.Zat-zat polutan dalam air yang tercemar akan terurai dan tercampur dalam udara ketika berlangsung proses penguapan. Sebagian air yang tercemar juga memasuki tanahsehingga tanah pun itu tercemar. Pencemaran tanah pun akhirnya juga menyebabkan pencemaran air dan udara. Zat-zat polutan yang ada di dalam tanah dapat menguap keudara, menimbulkan bau yang tidak sedap dan menyesakkan pernafasan. Sebagian zat polutan itu juga memasuki air tanah dan mengisi air sumur, sungai, dan danau. Kalau sudah seperti itu, siapakah yang akan rugi? Tentu manusia-lah yang akan rugi danmenanggung semua akibatnya.Dan selanjutnya adalah Pencemaran suara adalah tingkat kebisingan yang sangat mengganggu kehidupan manusia, yaitu suara yang memiliki kekuatan > 80 desibel.Pencemaran suara dapat ditimbulkan dari suara kendaraan bermotor, mesin kereta api,mesin jet pesawat, mesin-mesin pabrik, dan instrumen musik. Dampak pencemaran suaramenimbulkan efek psikologis dan kesehatan bagi manusia, antara lain, meningkatkandetak jantung, penurunan pendengaran karena kebisingan (noise induced hearingdamaged), susah tidur, meningkatkan tekanan darah, dan dapat menimbulkan stres.2.Degradasi LahanDegradasi lahan adalah proses berkurangnya daya dukung lahan terhadapkehidupan. Degradasi lahan merupakan bentuk kerusakan lingkungan akibat pemanfaatanlingkungan oleh manusia yang tidak memerhatikan keseimbangan lingkungan. Bentuk degradasi lahan, misalnya lahan kritis, kerusakan ekosistem laut, dan kerusakan hutan.

Rusaknya ekosistem laut terjadi karena bentuk eksploitasi hasil-hasil laut secara besar- besaran, misalnya menangkap ikan dengan menggunakan jala pukat, penggunaan bom,atau menggunakan racun untuk menangkap ikan atau terumbu karang. Rusaknya terumbukarang berarti rusaknya habitat ikan, sehingga kekayaan ikan dan hewan laut lain di suatudaerah dapat berkurang.

Kerusakan hutan pada umumnya terjadi karena ulah manusia, antara lain, karena penebangan pohon secara besar-besaran, kebakaran hutan, dan praktik peladangan berpindah. Kerugian yang ditimbulkan dari kerusakan hutan, misalnya punahnya habitathewan dan tumbuhan, keringnya mata air, serta dapat menimbulkan bahaya banjir dantanah longsor.
Degradasi lahan dapat berupa penggundulan hutan (deforestation) dan penggersangan lahan (desertification). Penggundulan hutan (deforestation)  Perusakan dan penebangan hutan secara permanen merupakan tindakan yangmenyebabkan hutan gundul. Penebangan hutan sudah dilakukan penduduk selama berabad-abad. Hanya saja, dalam 50 tahun terakhir ini kerusakan mulai dirasakan.Diperkirakan hutan yang hilang setiap hari seluas 400.000 hektar. Sedang di Indonesia,setiap tahun luas hutan berkurang sebanyak 1,6 juta hektar. Seandainya 1 hektar = 1lapangan sepak bola, dapat dibayangkan betapa cepat hutan hilang dari wilayahIndonesia. Yang lebih memprihatinkan, kebanyakan kerusakan hutan terjadi di wilayahhutan hujan tropis, termasuk hutan Papua, Sumatera, dan Kalimantan.Banyak factor yang menyebabkan manusia melakukan penggundulan hutan.Dorongan ekonomi cukup berperan dalam hal ini.
Pembangunan permukiman Pembangunan permukiman baru sering dilakukan denga cara membuka lahan hutan.Daerah transmigrasi disiapkan untuk ditempati para transmigran agar dapat membangun kembali lingkungan barunya. Lahan transmigran disiapkan di daerah tertentu dengan cara membuka hutan. Selain disediakan rumah-rumah dan laha pekarangan, fasilitas prasarana transportasi juga disiapkan untuk para transmigran. Jalan-jalan dibuat untuk menghubungkan dengan daerah luar, di Indonesia, penyediaan lahan transmigrandisiapkan untuk menempatkan jutaan penduduk dari Jawa atau wilayah lain yang berpenduduk padat. Perluasan lahan pertanian Di Amerika Selatan, pertanian tanaman pangan dan penggembalaan ternak yang membutuhkan lahan luas menimbulkan banyak kerusakan hutan. Sebagai bukti, sekitar 2/3 luas hutan telah rusak. Kebanyakan lahan gundul di wilayah ini pada beberapa dekadeterakhir disebabkan oleh pengembangan dan peternakan hewan besar serta perluasanlahan perkebunan. Lahan diwilayah ini tidak cocok untuk pertanian dan peternakan karena kurang subur. Lebih lanjut, lahan pertanian yang dikerjakan intensif tanpa periode jeda telah mempercepat proses degradsi tanah. Kandungan unsur hara dalam tanahmenyusut secara cepat dalam beberapa tahun. Pengundulan lahan juga mempercepat degradasi lahan. Di Indonesia, kegiatan perladangan berpindah dituding turutmenciptakan hutan gundul.c. Penggunaan bahan bakar kayuPohon-pohon hutan dapat dijadikan kayu bakar. Pemanfaatan kayu sebagai sumber energiterutama terjadi di Negara-negara berkembang seperti Etiopia dan Burkina Faso di Afrika. Di Negara tersebut bahan bakar kayu mengambil porsi lebih dari 90% dariseluruh energy yang digunakan. Diperkirakan kebutuhan bahan bakar kayu pada tahun2025 menjadi dua kali lipat dari pasokan yang kini tersedia. Peningkatan jumlah penduduk menambah tekanan pada luas lahan hutan. Tekanan akibat peningkatan jumlah penduduk akan memperluas penggundulan hutan. Hal ini disebabkan karena kemampuanregenerasi hutan lebih lambat disbanding kerusakan hutan serta peningkatan kebutuhan penduduk.Penambangan terbuka/ permukanBahan tambang perlu dikeluarkan dari dalam bumi agar dapat bermanfaat bagimanusia. Sebagai contoh, batu bara di tambang untuk bahan bakar pembangkit listrik.Lahan yang bayak mengandung cadangan batu bara kebanyakan masih berupa hutan.Untuk mendapatkan batu bara, cara yang umum di lakukan di Indonesia adalah denagn penambangan terbuka/ permukaan (open-cut/ surface mining ).Metode penambangan terbuka menyebabkan lahan hutan yang ditebangi semakinmeluas. Akibatnya, hutan menjadi gundul dan permukaan lahan menjadi rusak.Kerusakan lahan hutan akibat kegiatan penambangan terbuka perlu perbaikan yangsungguh-sungguh, yaitu dengan reklamasi dan penghijauan kembali. Jika tidak, akan banyak lubang raksasa atau bopeng-bopeng di permukaan lahan bekas tamabang sertalahan gundul menimbulkan degradasi lingkungan yang serius.Pembalakan Pembalakan yang tidak terkendali menjadi penyebab utama kerusakan hutan.Kegiatan pembalakan atelah mengubah lahan hutan menjadi gundul secara cepat. Fungsihutan sebagai penutup dan pelindung tanah menjadi hilang. Hujan dan angin mudahmengerosi tanah yang terbuka. Pohon-pohon yang tersisa akan tumbang oleh anginkarena tanah tempat tumbuh akar sudah terkikis. Pada lahan yang terbuka, sinar mataharimenyinari langsung sehingga tanah menjadi kerin, tidak subur, dan sulit diolah.Selanjutnya kayu-kayu gelondongan hasil pembalakan diangkat keluar dari hutanmelalui jalan yang dibuat dengan melintasi tengah hutan. Pengankutan kayu-kayugelondongan menyebabkan banyak kerusakan pohon-pohon pada jalur lintasan yangdilalui truk pengangkut. Alat-alat berat seperti traktor dan bulldozer juga menghancurkanvegetasi dan memadatkan tanah dilindasannya. Tanah yang padat sulit menyerap air hujan sehingga menghambat vegetasi untuk tumbuh kembali.Kerusakan hutan Indonesia termasuk yang tercepat di dunia. Dalam setahun hutanyang rusak mencapai 1,6 juta hektar atau seluas 3 hektar permenit. Ini berarti hutan yanggundul akibat penggalakan dalam satu menit sama denagn enam kali luas lapangan sepak  bola. Dapat dibayangakan betapa hebat dampak pembalakan terhadap kerusakan hutan. 
Penggersangan lahan (desertification) Penggersangan lahan banyak terjadi di wilayah iklim kering (arid) dan setengahsemi kering (semiarid). Degradasi lahan di wilayah ini menyebabkan terbentuknya gurun.Ini berarti telah terjadi kerusakan lahan secara meluas yang menyebabkan vegetasi tidak dapat tumbuh.
Seperti halnya penggundulan hutan, penggersangan lahan merupakan masalahlingkungan pada decade sekarang. Selama berabad-abad para penggembala ternak  berpindah-pindah menjelajahi padang gembala bersama ternak-ternaknya. Cara hidupmereka member sedikit pengaruh terhadap kerusakan lahan. Akan tetapi, bila kegiatan inidigabung denagn kerusakan alam secara alami, maka akan berpengaruh besar terhadap pembentukan lahan gersang pada suatu wilayah. Beberapa penyebab penggersanganlahan sebagai berikut.

Kegiatan pertanianPertumbuhan penduduk di wilayah semiarid biasanya diikiuti oleh kegiatan pertanianyang meningkat. Praktik-praktik pertanian yang buruk dengan menanami lahan secaraterus menerus tanpa jeda memang mapu meningkatkan hasil panen. Hanya saja, keadaanini akan mempercepat penurunan kesuburan lahan. Lahan yang sudah tidak subur kemudian di tinggalkan. Vegetasi alami tidak dapat tumbuh dan berkembang biak padalahan gersang karena tanah kekurangan makanan (unsur hara).Jumlah dan ukuran hewan ternak memengaruhi kebutuhan pakan. Pertambahan jumlah hewan ternak telah meningkatkan kebutuhan lading penggembalaan untuk merumput. Hewan gembalaan juga menginjak-nginjak lahan dan memakan rumput yangtinggal sedikit. Lahan yang telah habis rumputnya akan kembali pulih setelah ditinggakandan di beri cukup kesempatan untuk tumbuh. Akan tetapi, hal ini sulit terwujud karenahewan gembalaan yang telah meninggalkan lading penggembalaan digantikan olehhewan gembalaan yang lain.Penggunaan teknologi Penggersangan di wilayah semiarid dapat ditimbulkan oleh pemanfaatan teknologi irigasimodern. Di wilayah Afrika banyak disediakan sumur bor untuk para penggembala dibuatuntuk mendapatkan air tanah. Sumur-sumur ini telah menarik para penggembala danhewan gembalaanya untuk minum dan merumput. Kemudahan mendapatkan air menyebabkan para penggembala tinggal di wilayah itu. Kaki-kaki hewan yang menginjak tanah turut menekan lahan dan memadatkan tanah. Degradasi lahan telah di perburuk oleh hewan-hewan gembala yang menginjak-nginjak lahan subur di lingkungan sekitar.Sebenarnya jika penggembala di lakukan dengan sistem rotasi seperti pada penanamantanaman pertanian, resiko kerusakan tanah bias diperkecil. Lahan dibiarkan istirahat agar vegetasi alami bias tumbuh kembali, akhirnya pengembalian ketersediaan unsur haradalam tanah berlangsung lebih cepat.Vegetasi berkurang meningkatan jumlah hewan dan manusia mempengaruhi penurunan jumlah vegetasi.Kegiatan pencarian kayu bakar dan hewan-hewan gembala yang merumput menyebabkan jumlah vegetasi berkurang dengan cepat. Ketika lahan menjadi gundul dan terbukakarena pertumbuhan penutupnya hilang, maka angin dan hujan mudah mengerosi lapisan tanah atas yang subur. Lahan yang tererosi tidak dapat menanam dan meresapkan air hujan ke dalam tanah. Kondidi ini menimbulkan lahan gersang sehingga vegetasi tidak dapat tumbuh subur dan lahan menjadi sepi dari kehidupan.

 
 
E. BENTUK KERUSAKAN LINGKUNGAN AKIBAT BENCANA ALAM

Bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda Indonesia telah menimbulkan dampak  rusaknya lingkungan hidup. Meletusnya Gunung Merapi didaerah Sleman Yogjakarta diikuti oleh gunung berapi di sekitarnya menjadi status awas seperti Gunung Krakatau dan Semeru merupakan contoh fenomena alam yang dalam sekejap mampu merubah bentuk muka bumi.Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:
Letusan gunung berapiLetusan gunung berapi terjadi karena aktivitas magma di perut bumi yang menimbulkan tekanan kuatkeluar melalui puncak gunung berapi. Bahaya yang ditimbulkan oleh letusan gunung berapi antaralain berupa:Hujan abu vulkanik, menyebabkan gangguan pernafasan.Lava panas, merusak, dan mematikan apa pun yang dilalu.Awan panas, dapat mematikan makhluk hidup yang dilalui.Gas yang mengandung racun.Material padat (batuan, kerikil, pasir), dapat menimpa perumahan, dll. Gempa bumiGempa bumi adalah getaran kulit bumi yang bisa disebabkan karena beberapahal, di antaranya kegiatan magma (aktivitas gunung berapi), terjadinya tanah turun,maupun karenagerakan lempeng di dasar samudra. Manusia dapat mengukur berapaintensitas gempa, namun manusiasama sekali tidak dapat memprediksikan kapanterjadinya gempa.Oleh karena itu, bahaya yang ditimbulkan oleh gempa lebih dahsyat dibandingkan dengan letusan gunung berapi. Pada saat gempa berlangsung terjadi beberapa peristiwa sebagai akibat langsung maupunt idak langsung, di antaranya:Berbagai bangunan roboh.Tanah di permukaan bumi merekah, jalan menjadi putus.Tanah longsor akibat guncangan.Terjadi banjir, akibat rusaknya tanggul.Gempa yang terjadi di dasar laut dapat menyebabkan tsunami (gelombang pasang)
Angin topanAngin topan terjadi akibat aliran udara dari kawasan yang bertekanan tinggi menuju ke kawasan bertekanan rendah. Perbedaan tekanan udara ini terjadi karena perbedaan suhu udara yang mencolok.Serangan angin topan bagi negara-negara di kawasan Samudra Pasif ik dan Atlantik merupakan hal yang biasa terjadi. Bagi wilayah-wilayah di kawasanCalifornia, Texas, sampai di kawasan Asia seperti Koreadan Taiwan, bahaya angintopan merupakan bencana musiman. Tetapi bagi Indonesia baru dirasakan di pertengahan tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan iklim diIndonesia yang tak lain disebabkan oleh adanya gejala pemanasan global.Bahaya angin topan bisa diprediksi melalui foto satelit yang menggambarkankeadaan atmosfer bumi,termasuk gambar terbentuknya angin topan, arah, dankecepatannya. Serangan angin topan (puting beliung) dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup dalam bentuk:Merobohkan bangunan.Rusaknya areal pertanian dan perkebunan.Membahayakan penerbangan.Menimbulkan ombak besar yang dapat menenggelamkan kapal.





 
BAB III
PENUTUP
Uraian di atas menunjukan betapa besar dan luasnya kerusakan lingkungan yang mengancam pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.Ada beberapa faktor penyebab kerusakan lingkungan, antara lain:
 pertambahan penduduk yang pesat, sehingga telah menyebabkan tekanan yang sangat berat terhadap pemanfaatan keanekaragaman hayati.Misalnya,timbulnya eksploitasi terhadaps u mberdaya alam hayati yang berlebihan. perkembangan teknologi yang pesat, sehingga kemampuan orang untuk mengeksploitasi keanekaragaman hayati secara berlebihan semakin mudah dilakukan.makin meningkatnya penduduk lokal terlibat dalame konomi pasar kapitalis, sehingga menyebabkan eksploitasi keanekaragaman hayati secara berlebihan.kebijakan dan pengelolaan keanekaragaman hayati yangsangatsentralistik dan bersifat kapitalis dan tidak tepat guna.berubahnyasistem nilai budayamasyarakat dalammemperlakukan keanekaragaman hayati sekitarnya. Misalnya, punahnya  sifat-sifat kearifan penduduk lokal terhadap lingkungan hidup sekitarnya.Oleh  karena itu, pengelolaan keanekaragaman hayati yang holistik, berkelanjutan dan berkeadilansosial bagisegenap wargamasyarakat, sungguh diperlukan untuk mempertahankan kelestarian keanekaragaman hayati.


KESIMPULAN

Begitu banyaknya masalah yang terkait dengnan lingkungan hidup yangberkaitan dengan pembangunan.Masalah tersebut dapat timbul akibat prosespembangunan yang kurang memperhatikan aspek lingkunganhidup. Di era otonomiini tampak bahwa ada kecenderungan permasalahan lingkungan hidup semakin bertambah kompleks, yang seharusnya tidak demikian halnya. Ada sementara dugaan bahwa kemerosotan lingkungan hidup tekait dengan pelaksanaan otonomi daerah, dimana daerah inginmeningkatkan PAD dengan melakukan eksploitasi sumberdayaalam yang kurang memperhatikan aspek lingkungan hidup dengan semestinya. Dengan cara seperti ini maka terjadi kemerosotan kualitaslingkungan di mana-mana, yang diikuti dengan timbulnya bencana alam. Terdapat banyak halyangmenyebabkan aspek lingkungan hidup menjadi kurang diperhatikan dalam prosespembangunan,yang bervariasi dari daerah satu dengan daerah yang lain, dari hal-hal yang bersifat lokal sepertiketersediaan SDM sampai kepada hal-hal yang berskalalebih luas seperti penerapan teknologi yang tidak ramah lingkungan.Peraturan perundangan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidupsudahcukup memadai, namun demikian didalam pelaksanaanya, termasuk dalampengawasan, pelaksanaannya perlu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh.Hal ini sangat terkait dengan niat baik pemerintah termasuk pemerintah daerah,masyarakat dan pihak- pihak yang berkepentingan untuk mengelola lingkungan hidupdengan sebaik-baiknya agar prinsip pembangunan berkelanjutan berwawasanlingkungan dapat terselenggara dengan baik. Oleh karena pembangunan padadasarnya untuk kesejahteraan masyarakat, maka aspirasi dari masyarakat perludidengar dan program-program kegiatan pembangunan betul-betul yang menyentuhkepentingan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar